Posted on December 31st, 2007
[fridabali.com] - Namaku Adi ( samaran ) dan belum setahun ini aku kawin dengan Ina, setelah
dia menyelesaikan SMU nya. Ina adalah anak tunggal dan Ibunya ( mertuaku dan
umurnya sekitar 40 an) telah cerai kira2 5 tahun yang lalu, tapi sampai saat ini
aku nggak tahu mengapa mereka sampai bercerai. Karena rumah mertuaku cukup besar
di daerah Bekasi dan apalagi Ina hanyalah anak satu2nya, maka setelah kawin, aku
dan Ina diminta tetap tinggal di rumah ini, karena Ibu nggak mau ditinggal
sendiri. Padahal, aku sudah punya rumah sendiri, walaupun masih memcicil di KPR.
Untuk menyingkat cerita, baiklah kumulai cerita ini yang terjadi kira2 dua bulan
yang lalu.
Seperti biasanya, aku pulang dari kantor dan sampai di rumah kira2 jam 18.00
sore. Ina dan ibunya selalu ngobrol di tetangga sebelah rumah, biasa
perempuan..ngerumpi kali. Sesampainya di rumah, aku biasanya langsung mandi.
Suatu sore, saat aku lagi mandi dan kebetulan aku sedang menggosok kontolku
dengan sabun untuk membersihkan kotoran2 yang ada dan kontolku sedang berdiri
tegak karena gosokanku tadi.eeeehhhhhh, tiba2 pintu kamar mandinya terbuka lebar
dan Ibu mertuaku masuk terburu-buru sambil kedua tangannya mengangkat roknya
keatas.
Melihat aku ada didalam kamar mandi dan kebetulan aku menghadap ke arah pintu…
aaaahhhhkkkk..Adiiiii..teriak mertuaku tertahan sambil menutupkan kedua
tangannya ke arah mulut nya, tapi matanya yang terbelalak kaget itu tetap
tertuju ke arah kontolku. Ad.Adiiii…, lanjutnya setelah kekagetannya sedikit
hilang, lho.. kok…kamar mandi nya nggak di kunci… Dan matanya masih tetap
tetegun ke arah kontolku. Lho…Ibu sih…masuknya nggak pakai ketok2
dulu…Ad.. adaaa.apa sih bu kok. keburu-buru.???? Kalau sudah kebelet mau
pi.pis.., ya. pipis aja deh.. bu, kataku, tapi…Ina.dimana.bu .?? lanjutku,
karena aku takut tiba2 Ina muncul juga, bisa2 tengsin. Ohh..Ina lagi ke warung
dengan si Wati, katanya sih mau beli rujak.., kata ibu.
Si..silahkan.deh ..bu.kencingnya.kalau sudah kebelet…Tapi..kalau Ina tahu
bu.bisa berabe., lanjutku tanpa kuubah posisi berdiriku. Nnggg..nggaaakk.
apa2..nih..Di., kata ibu sambil kedua tangan nya mengangkat roknya dan. iy..
ya.deh.Diii..ibu sudah kebelet niiihh..lanjut ibu sambil menurunkan Cdnya.
Terlihat sekelebat., sebelum ibu jongkok, memeknya yang ditumbuhi bulu2 hitam
yang lebat dan membuat kontolku semakin tegang aja. Ad.adiii…tolong..dong
ambilkan air di gayung…, kata ibu tiba2 sambil tangan kanannya mengarah ke
arahku.dan…entah disengaja apa tidak, tangan ibu telah menyentuh kontolku.
Ma.aaaff.yaaa.Diii.. keseng.gol., kata ibu setelah merasa tangannya menyenggol
kontolku. Sambil keluar dari kamar mandi, ibu masih sempat berucap pelan. Aaa..
diii., si Ina beruntung.ya… Untung gimana bu…tanyaku nggak jelas, sebelum
ibu menutup kamar mandi…Tapi nggak ada jawaban dari ibu dan kulanjutkan
mandiku sampai selesai.
Seminggu kemudian, tepatnya hari Jum’at pagi sewaktu aku sarapan bertiga dengan
Ina dan Ibu, Ina bilang..Maaass.nanti siang aku mau pergi ke rumahnya si Sarah
di Kebayoran Lama.mau ngebantuin dia…besok kan dia mau nikahan…waktu kita
nikah dulu, dia kan membantu kita disini..sampai nginep lagi. Jadi kamu mau
nginep juga.? Tanyaku sambil mataku tertuju ke arah ibu. Iya..dong Massss..nggak
enak kan ? Jadi Mas dan Ibu, datang saja kesana besok sore sambil sekalian
menghadiri resepsinya. Bolehh.kan…Mas…?? OK.deh..kalau gitu, kataku dan aku
langsung berangkat ke kantor setelah pamitan dengan Ina dan Ibu.
Sore harinya ketika aku sampai didepan rumah, terlihat rumah Ibu tertutup dan
waktu kucoba membukanya, eh..nggak taunya terkunci. Aku jadi agak kesel juga ke
Ina, katanya mau pergi sendiri ke rumah si Sarah, tapi rumah kok di kunci.
Lalu kucoba mengetok pintu, siapa tau Ibu entah sedang mandi atau ketiduran.
Setelah beberapa kali pintu kuketok, terdengar suara ibu dari belakang…siapa
ya…??
Adiiiii.bu… , kataku dan sewaktu pintu dibuka terlihat pening kiri dan kanan
ibu telah di tempeli koyok. Lho…bu…kenapa…? tanyaku…sakit..ya..bu,
lanjutku.
Enggak…kok.diiii…ibu cuman agak pusing sedikit aja.dan.sekarang sudah agak
mendingan kok..setelah ditempelin koyok. Ohhh…, kataku sambil terus masuk
rumah.
Adiiii…kata ibu sambil berjalan menuju kamarnya…nanti kamu makan sendirian
aja..ya., ibu kepingin tiduran dulu…masih berat..rasanya kepala ibu ini.
Nggak.apa..deh.bu., kataku sambil menuju kamarku yang letaknya nggak terlalu
jauh dari kamar ibu. Setelah mandi, kukenakan pakaian kesukaanku kalau lagi
dirumah yaitu kaos oblong dan sarung serta kulanjutkan makan malam sendirian.
Lagi enak2nya nonton warta berita TVRI, kudengar suara ibu dari kamarnya
memanggil namaku..Adiiii. adiiiii..sini dulu.diii.. Selama ini belum pernah
masuk ke kamar mertuaku, jadi kujawab panggilan ibu dari depan pintu kamarnya
yang terbuka tetapi tertutup korden.ada..ap..apaaaa..bu…?? Kesini. dong.
diiii…masuklah…dan kubuka korden kamar ibu dan kulihat ibu lagi tiduran
miring menghadap ke arahku dan memakai pakaian tidur yang sangat tipis. Tapi
baru saja aku akan masuk kamar, tiba2 telepon berdering, sebentar..ya.bu.ada
telepon masuk, kataku pada ibu. Hallo…, kataku sambil mengangkat gagang
telepon, Maasss.., oh.rupanya si Ina dalam hatiku, lagi ngapain.maasss ? apa
sudah makan…?? kata Ina lagi. Biasa.., lagi nonton TV jawabku. Masss..,
kelihatannya pesta kawinnya Sarah.akan besar2an, aku lagi sibuk nih..dengan
merangkai bunga, katanya dan kelihatannya aku nggak bisa pulang, jadi besok
seperti rencana aja deh Mas…lanjut Ina. Iya.deh In…nggak apa2, jawabku.
Eh…maasss., mana ibu..??? Aku pingin ngomong dong…, lanjut Ina. Innn..Ibu
dari tadi tiduran dikamarnya.. katanya lagi pusing…aku lihat tadi.pelipisnya
di tempelin koyok, kataku.
Massss.., tolong deh kepala ibu dipijitin…pasti deh.pusingnya ibu akan
hilang., biasanya..ibu suka aku pijitin, kalau lagi pusing..dan..sebentar aja,
katanya pusingnya hilang..tolong..ya…masss, dan sampaikan salamku buat ibu dan
OK mas..sampai besok, cerocos Ina.
Sambil aku berjalan kembali kearah kamar ibu, kudengar suara ibu yang tidak
terlalu keras, Adiii…telepon dari siapa…?? Oh…dari Ina.bu… Sini…dong..
Diii. tolongin.ibu.. Sambil membuka korden kamar ibu dan terlihat posisi tiduran
ibu masih seperti semula yaitu menghadap ke arahku,
si.siniiii.diiii.tolongin..ibu..?? kata ibu sambil melambaikan tangannya dan
kulihat ketek ibu yang agak ditumbuhi bulu2 hitam lebat, sehingga membuat
kontolku berdiri.
Sini…diii..tolongin.ibu, kata ibu sambil menepuk tempat tidur tepat dimukanya
dan menggeser badannya sedikit kearah belakang. Waktu badannya bergeser, kulihat
teteknya bergerak-gerak dan setelah kuperhatikan rupanya ibu nggak memakai Bh,
sehingga kontolku semakin tegang saja, untungnya nggak kelihatan karena aku
pakai sarung. Tol.tolongiinn.apa.bu..?? Kataku setelah aku berdiri tepat dimuka
ibu dan Ibu…masih pusing…ya..?? lanjutkan. Eeeemmm.diii..duduklah
disini..kata ibu sambil menepuk kasur dimukanya dan menggeser badannya lagi
sedikit kearah belakang dan sepertinya memberi tempat aku buat duduk,
tolong..ke.pala ibu dipijitin..sebentar.ya..diii, kepala..ibu…kok tambah.berat
aja.
Lalu aku duduk tepat dimuka ibu dan kupegang kepala ibu dengan kedua tanganku
sambil kupijat-pijat. Kulihat mata ibu memejam ketika kepalanya kupijiti,
mungkin lagi menikmati enaknya pijitanku. Dari jarak yang begitu dekat, terlihat
tetek ibu yang nggak terlalu besar samar-samar dibalik daster yang tipis itu dan
ini membuat kontolku semakin tegang saja dan mulai kelihatan menonjol dari balik
sarungku.
Diii.., kata ibu sambil matanya masih tetap terpejam, In.Ina..bilang.apa..??
Anu.bu…pestanya si Sarah.kelihatannya akan besar2an, kataku. Terus…,lanjut
ibu, Iya..bu..saya bilang ibu lagi tiduran karena pusing dan sa…saya diminta
untuk memijiti kepala ibu…, jawabku. Lalu kami berdua diam dan tetap
kulanjutkan pijitan dikepala ibu.
Karena nggak tahan diam terus dan yang terdengar hanya suara napas ibu, maka aku
mencoba untuk menanyakan kata2 ibu kemarin sewaktu di kamar mandi.
Buuu…,kataku pelan2. Ya…diii..ada.apa.?? sahut ibu dan matanya melek sedikit
dan memandangku tapi lalu merem lagi. Itu…lo..buuu.., kemarin kan ibu
bil.bilang..kalau Ina beruntung..apa sih itu..bu.??? Ibu nggak langsung
menjawab, tapi tiba2 ibu sambil membuka matanya sedikit melihat arah sarungku
dan dengan cepat tangannya bergerak menggenggam dan memijat pelan kontolku yang
terlihat menonjol dari luar sarung sambil mengucap..In..ini..lho..diii…
Memang..nya.kenapa..buuuuu, tanyaku pingin tahu lebih jauh jawaban ibu. Ahhh.
kamu.ini.., jawab ibu sambil memijit lagi kontolku, be…saaarrr…diiiii,
lanjut ibu sambil melepas pijitannya dan menggeser tangannya dari sarungku.
Setelah itu, nggak ada lagi pembicaraan, tapi napas ibu semakin tidak teratur
dan makin keras dan kontolku semakin tegang saja setelah di pijit ibu.
Perasaanku makin nggak karu2an dan kulihat ibu masih saja tetap memejamkan
matanya, hanya nafasnya semakin kencang. Lalu sambil tetap kupijiti kepalanya,
pelan2 kudekati bibir ibu dan….kucium bibir ibu lembut. Kulihat ibu agak kaget
tapi matanya masih tertutup dan berguman pelan..Adiiiiii..aaahhhhh.. kam..
kamu..nakaaal.ya. Karena nggak ada reaksi negatif dari ibu, maka keberanian dan
nafsuku semakin bertambah, pelan2 kuangkat sarungku dan kupegang batang kontolku
lalu kubawa maju menuju mulut ibu yang agak terbuka sedikit itu. Adiiii…seru
ibu lirih ketika kontolku kudorong masuk ke mulut ibu dan hhhhmmm…hhhhmmm.
,suara ibu yang nggak bisa meneruskan kata2nya karena kontolku sudah ½ nya masuk
ke mulutnya. Buuu..bbuuu.enaaaaaakkk.bu…bu, gumanku ketika lidah ibu terasa
sedang dipermainkan di kepala kontoku dan terus di sedot2, sedang ibu hanya ber
suara.. hhhmmmm…hmmmm.hhmmm.. Pelan2 aku majukan badanku kearah muka ibu,
sehingga sumua kontolku sekarang masuk semua kedalam mulut ibu, sambil
kulepaskan kedua tanganku dari kepala ibu dan kupindahkan ke tetek ibu yang
cukup lembut serta kuremas-remas. Setelah beberapa saat kontolku di sedot2 ibu,
rangsangan ditubuhku makin panas, lalu kuangkat daster ibu dari bawah
dan..rupanya ..ibu sudah nggak pake Cd, sehingga terlihat badannya yang putih
bersih ibu dan sekeliling memeknya ditumbuhi bulu2 hitam halus yang lebat.
Kurebahkan badanku ke arah perut ibu, lalu kujilati dan kucucup perut dan
sekitarnya, sedangkan ibu semakin keras menyedot-nyedot kontolku sambil
maju-mundurkan mulutnya. Setelah beberapa saat jilatanku hanya disekitar perut
ibu, sekarang secara perlahan-lahan kuselusuri jilatanku kearah memek ibu.
Sesampainya mulutku di sekitar bibir memek ibu, kujepit bibirnya yang sudah
basah oleh cairan ibu yang asin2 enak, sambil kupermainkan ludahku dan badan ibu
menggelinjang sambil berguman. Ad..adiii..lalu suara ibu menghilang dan hanya
terdengar bunyi .. hhmmmm. hhmm ..hhmmm.karena kembali kontolku ketekan masuk
kemulut ibu. Kemudian lidahku menjalar terus ke arah kelentit ibu dan ku
main2kan dengan lidahku dan sesekali kusedot agak kuat, sehingga tubuh ibu
menggelinjang keras sambil menaik-turunkan pantatnya dan kedua tangannya
berusaha menekan kepalaku kedalam memeknya dan pantatku tetap ku naik-turunkan
sehingga kontolku keluar masuk mulut ibu dan yang kudengar hanya bunyi
..hhhmmmm.. hhhmmm.hhhmm..dari mulut ibu. Setelah cukup lama seluruh bagian
memek ibu yang sangat basah itu ku sedot dan jilat itu, tiba2…ibu melepaskan
kontolku dari mulutnya dan…Addiiiii.., teriak ibu agak
keras..amm…puunnn.diiiii, ibu
nggak..tah.tahaaaannnnn..ib.bu..kel..uaaaaaaaarrrr..arccchhhhh, sambil kedua
tangannya menekan kepalaku kuat2 ke memeknya dan pantatnya naik-turun dengan
cepat, lalu ..terdiam…dan hanya nafas ibu yang terdengar terengah-engah.
Setelah nafas ibu terdengar agak teratur..Adiiiii.. sin.siniiii… sayaaaaang,
kata ibu sambil berusaha menarik badanku kearahnya dan kulepaskan mulutku dari
memek ibu yang penuh dengan cairannya serta kuputar badanku dan kucium mulut ibu
dengan bibirku yang masih basah dengan cairan ibu dan badannya kupeluk erat.
Adiiiiii…, terdengar bisikan halus ibu ditelingaku.pusss.ing..ibu. sudah
hilang..say…aanng, sud..aaahh lamaaaa..ibu merindukan..ini.diiiii, dan aku
nggak memberikan jawaban apapun hanya kukecup bibir ibu dengan lembut serta
disambutnya ciumanku itu dengan mesra.
Kontolku tetap masih sangat tegang karena sampai saat ini yang kupentingkan ibu
supaya bisa orgasme lebih dulu dan sekarang posisiku sudah berada diatas badan
ibu yang sedang terlentang, sambil kami tetap berpelukan dan berciuman.
Sambil kukecup pipi ibu, kubisiki telinga ibu..buuuu.., boo..leeehh. sayaaa..??
belum sampai kata2 yang aku ucapkan itu selesai, terasa ibu telah berusaha
merenggangkan ke dua kakinya pelan2 dan kulihat ibu tidak berusaha menjawab,
tapi terus menutup matanya. Dengan tanpa melihat, kucari lubang memek ibu dengan
kontolku dan ibu menggeser pantatnya sedikit saat kontolku sudah menempel
memeknya, sepertinya ibu sedang berusaha menempatkan lobang memeknya agar
kontolku mudah masuk. Setelah kurasa pas, kutekan kontolku pelan2 ke memek ibu,
tapi sepertinya nggak ada tanda2 kepala kontolku mulai masuk, walau memek ibu
sudah basah sekali. Yang kuperhatikan diwajah ibu yang lagi merem itu,
sepertinya ibu menyeringai agak menahan rasa sewaktu kontolku kutekan ke
memeknya.. peel.. laaan.. pelaaan.diiii.. saaa…kiitt, kudengar bisik ibu dan
lanjutnya ..iibu.. sudah lama..nggak.. pernah begini, sejak bapak kawin
lagi.diii. Karena kasihan mendengar suara ibu itu, kuangkat pelan2 kontolku tapi
tangan ibu yang dari tadi ada di pantatku berusaha menahannya.
Jaa…ngaaann..dicabuuuutt..diii.. kedengar bisik ibu lagi. Aku nggak menjawab
apa2, tapi kutusukkan lagi kontolku pelan2 ke memek ibu dan..ttrrretttt..terasa
kepala kontolku seperti menguak sesuatu yang tadinya tertutup dan kuhentikan
tusukan kontolku karena kudengar lagi ibu seperti merintih.Adiiiiii..sambil
kedua tangannya menahan pantatku dan wajahnya menyeringai menahan sakit.
Beberapa detik kemudian, kurasakan kedua tangan ibu menekan pantatku pelan2, aku
langsung menekan kontolku lagi pelan2 dan.. ttrrreeett.bleessss… terasa
kontolku masuk setengahnya ke memek ibu…aadiiiiiii….kata ibu seperti
berbisik, suu..daaahh… maaasukk..sa.. yaang…, lanjutnya sambil melepas nafas
panjang tapi tangan ibu menahan laju tekanan pantatku. Aku diamkan sebentar
pergerakan kontolku sambil menunggu reaksi ibu lebih lanjut, tapi…dalam
keadaan diam seperti ini, aku merasa kontolku sedang terhisap kuat di dalam
memek ibu dan secara nggak sadar terucap dari mulutku..
buuu..ibuuu.ennaaakk..sekali..buu..terr.usss..buu. Saking enaknya.aku sudah
nggak perhatikan tangan atau wajah ibu lagi, lalu kegerakkan pantatku naik turun
pelan2 dan makin lama makin cepat, dan ibu mengimbanginya dengan mengerakkan
pantatnya seperti berputar-putar. Addiii…diii..tee..ruuus.
diiii..enaaakk..aduuuhhh…enakkk..ddiii.., kudengar kata2 ibu terbata-bata dan
terucap dari mulutku secara tanpa sadar…bbuuuuu..buuuu..iy. ya…saa. yyaaa.
jugaaa..eenaakkkk, dan kubungkam bibir ibu dengan mulutku sambil lidahku kuputar
didalam mulut ibu, serta kedua tanganku mencengkeram kuat wajah ibu. Sedang kan
kedua tangan ibu masih tetap di posisi pantatku dan menekan pantatku apabila
pantatku lagi naik. Goyangan dan gerakan aku dan ibu semakin cepat dan kudengar
bunyi.crreeettt…creeettt..creeetttt.secara teratur sesuai dengan gerakan
naik-turunnya pantatku serta bunyi suara ibu ..hhmmm…aaaahhhh.. aaahhh.yang
nggak keluar karena bibirnya tertutup bibirku. Nggak lama kemudian gerakan
pantat ibu yang berputar itu semakin cepat dan kedua tangannya mencengkeram
kuat2 di pantatku dan…tiba2 ibu melepas ciumanku serta berkata tersendat
sendat agak keras..Adiii..diiii…ddii..ibuuuu..ibuu..haam.
piirr..ddiiii.aa…yyoooo..diiii.., moment ini nggak kusia siakan, karena aku
sudah nggak kuat menahan desakan pejuku yang akan keluar.buuu.tuung..
guuu.saa..maaa.samaaa..sek..aaarangggg…arrcchhhhhh..,
mau yang lebih hot :
[ Kumpulan Cewek Bispak Gratis ] [ Koleksi Film Bokep ] [ Free Gambar Bugil ] [ MP3 Gratis ] [ Lika Liku Pekerja Malam (PSK) ] [ Tip’s Sex Yang Sehat ]
trim’s to : http://ceritadewasapanas.blogspot.com/2007/12/kuhisap-memek-mertuaaahhh.html
Posted on December 31st, 2007
[fridabali.com] - Pabrik tempat saya
bekerja berada di Jepara dan Yogyakarta, suatu hari setelah pergi ke Jepara, saya terus ke
Yogyakarta, disini saya menginap disalah satu Penginapan dimana sering disebut
Guest House, Sesampai saya dipenginapan itu, saya mendaftar untuk menginap dan mendapat kamar
nomor 7, sementara teapt didepan kamar saya ( di kamar nomor 2)
ditempati oleh sepasang manusia, belakangan saya kenal namanya Bram dan Maya.
Bram berasal dari negeri kancir angin sedangkan Maya dari Sukabumi. Kami
sepertinya cepat akrap dengan mereka, itu terbukti sore hari (malam pertama saya
nginap) si bram dan si maya sudah bisa ngobrol akrab dengan saya di kamar saya. Malam itu mereka kembali kekamar mereka jam 10 malam. Besoknya, sekembali saya dari pabrik, saya kembali kepenginapan dan sampai dipenginapan jam 1830. Sesampai saya dipenginapan ketemu dengan Maya.
saya tanya, Bram mana, dijawab Maya lagi ngirim Fax dan nelepon di wartel., lalu
kami ngobrol berdua dikamar saya, Maya kelihatan sudah mandi dia pakai blus
kaos tidak pakai BH, setelah duduk sebentar, saya pamit untuk mandi., selesai
mandi saya duduk kembali dengan maya., setelah ngomong kesana kemari baru saya
ketahui bahwa Bram punya istri di Belanda sana bahkan sudah punya anak yang
kuliah, sedangkan simaya sendiri adalah teman dekat dari Bram kalau dia datang
ke Indonesia.
Setelah cukup lama juga kami ngobrol datang si Bram ( sekitar jam
20.30 ) si Bram datang membawa makanan., dilihatnya simaya ada dikamar saya,
maka dia belok kekamar saya ( bram membawa sekotak makanan dan sebotol
minuman/minumanya saya tidak tau namanya/botolnya gepeng), makanan itu kami
makan bertiga, sedangkan yang minuman botol diminum sendiri oleh bram dengan
cara menegak lansung dari botol tsb., sedangkan saya dan maya minum air yang
disediakan oleh tempat nginap., setelah cukup lama kami ngobrol sana sini,
Bram mulai ngaco ngomongnya., dia mulai meremas-remas bahunya simaya., saya
merasa risih lalu saya berdiri dan sukak buang muka, eh Bram bilang “Dia mau
kemana, jangan pergi donk”, lalu maya juga bilang “Mbok ya jangan gitu, santai aja”
sembari melihat ke Bram, lalu saya jawab, nggak, saya nggak pergi kok, saya
cuman nutup pintu, biar nggak masuk nyamuk “gitu alasan saya” lalu saya tutup
rapat pintu dan kembali duduk didepan mereka, sementara mereka kelihatan semakin
seru, kelihatannya si Bram setengah mabuk dan si mayapun tidak menolak kelakuan
si Bram malah ngasih respon yang hangat., wah ini betul-2 tontonan yang sangat
mengasikkan., kalau dulu saya melihat beginian paling2 dalam filim atau ngintip,
tapi sekarang terang-terangan., saya mulai gelisah tapi ada senangnnya juga.,
sembari saya ngemil makanan yang dibawa bram, saya terus memperhatikan perbuatan
mereka. Sibram semakin gila saja, setelah puas meremas-remas bahu dan tangan si
Maya sekarang berpindah ke susunya si maya dan simaya disuruh duduk
dipelukannya., dengan tidak malu-malu simaya ngikutin saja bahkan membalas
dengan menciumin sibram., si bram kelihatan makin seru saja menaikan roknya si
maya dan melorotkan celana dalamnya simaya. (sepertinya mereka tidak terganggu
dengan saya) tadinya bram meremas-remas susu si maya sekarang jadi
mengusap-ngusap memeknya simaya ( wah saya semakin seru saja melihatnya )., saya
lihat simaya tidak kalah serunya melayani si bram., dia bukak kancing baju bram
dan kelihatan bulu dadanya yang lebat., dan simaya terus melorot kelantai dan
berlutut didepan sibram, lalu dibukak nya ikat pinggang sibram dan reslitingnya
diturunnin, maka terjulur lah itu batangan kontol sibram yang mulai mengeras (
besarnya normal saja ), kelihatan simaya mencoba menurun kan celana sibran
sampai kepaha sehingga simaya leluasa mengulun kontolnya bram., tidak lama dia
mengulunnya lalu maya duduk ngangkan diatas pahanya siBram lalu berusaha
memasukan kontol sibram di memeknya., kelihatan kontolnya sibram yang tidak
begitu keras dimasukkan kememek simaya., simaya mengambil inisiatip
menggoyangnya, cukup lama juga simaya menggoyang (mungkin ada 15 menit) lalu
simaya kelihatan mengera-ngerang sembari goyangannya dipercepat setelah berucah
auuuuuuuuuuu., simaya turun (kontolnya dilepaskannya dari memeknya) dan
diteruskan mengulum kontol si bram, kelihatan kontolnya tidak begitu keras,
sementara dimemeknya si maya kelihatan busa/cairan memutih, beberapa menit
simaya mengulun-ngulun kontol si bram, lalu sibram panggil saya “Ida, sini dong
sayang” dan sekita itu juga simaya melihat kesaya dan memanggil saya ” ayo mbak
ikut ” lalu saya berdiri dan mendekat kemereka., eh simaya meraba paha saya lalu
terus keatas (didalam rok) dan sampai dikaret celana ditariknya celana saya
kebawah, dalam keadaan masih bingung saya disuruh/didorong untuk duduk ngangkang
dipaha sibram., tapi saya duduk berbalik (tidak menghadap kebram), terus si maya
memasukan kontolnya sibram kememek saya, setelah masuk saya lakukan seperti apa
yang dilakukan maya tadi ( naik turun ), sibrampun berusaha meremas-remas susu
saya sedangkan si maya terus menjilatin buah pelernya sibram dan sekalikali
terasa sentuhannya ke memek saya., sudah sekitar lima menit saya melakukan
kocokan (terasa paha sudah mulai pegal), lalu si bram memegang erat pinggang
saya dan mendorong naik turun yang lebih cepat, tidak lama sesudah itu dia
meng-aduh panjang ( aduuuuuuuuuuuuuuuuuh ) lalu menahan pinggulsaya tetap berada
diposisi nempel dibawah, sedangkan saya mulai merasakan nikmat, dengan sebisa
saya, saya coba memutar-mutarkan pinggul saya agar kontol sibram tetap bisa
menggesek memek saya, makin lama makin saya percepat, melihat saya demikian,
simaya berpindah sekarang jadi menjilatin memek saya sampai saya merasakan suatu
kenikmatan yang sangat luar biasa dan saya lalu terebah kebelakang ( kebadannya
si bram ), sementara itu si maya berusaha mengeluarkan kontol sibram dari memek
saya dengan tangan dan terus mengulumin kontolnya sibram hingga bersih, saya
lihatin sudah bersih dan loyo itu kontolnya sibram lalu dia berpindah menjilatin
memek saya, sementara sibram tetap meremas-remas susu saya sedang si maya terus
menjilatin memek saya, dijilatin dari arah bawah (lobang anus) sampai ke klentit
saya, kalau lidah nya menyentuk klentit saya, terasa ngilu-ngilu enak.
mau yang lebih hot :
[ Kumpulan Cewek Bispak Gratis ] [ Koleksi Film Bokep ] [ Free Gambar Bugil ] [ MP3 Gratis ] [ Lika Liku Pekerja Malam (PSK) ] [ Tip’s Sex Yang Sehat ]
trim’s to : http://topabgindo.blogspot.com/2007/12/abg-jablay-ngeseks-ngentot-di-kelas.html
Posted on December 31st, 2007
[fridabali.com] -
Cerita ini adalah kisah nyata hidupku yang tak akan terlupakan, cerita ini di
mulai waktu ada acara keluarga di Villa Tretes minggu lalu. Sekarang ini aku
duduk di sebuah perguruan tinggi swasta di surabaya, Namaku hady, umurku 20
taon.
Begini kisahnya…. Hari minggu itu keluargaku ada acara temu kangen di Malang.
Seluruh anggota keluarga hadir dalam acara itu, kira kira ada 3 keluarga. Ada
hal yang paling ku gemari dalam acara itu, yaitu acara perkenalan tiap2
keluarga.
Pada kesempatan itu adik ibuku bernama Henny memperkenalkan keluarganya satu
persatu. Aku lihat gaya bicara Tante Henny yang sangat mempesona,… terus
terang Tante Henny bila aku gambarkan bak bidadari turun dari langit..wajahnya
yang cantik kulitnya yang mulus dan bodynya yang okey … membuat tiap laki2
pasti jatuh hati padanya..
Perkenalan demi perkenalan telah terlewati malam itu , sekitar pukul 9 malam,
kami beristirahat. Badanku terasa penat dan aku pergi untuk mandi …sekalian
persiapan untuk acara besok. Waktu aku akan mandi, tanpa sengaja aku lihat
tanteku barusan keluar dari kamarnya memakai kimono putih yang agak transparan
dan terliahat samar samar lekuk tubuhnya yang indah, dengan agak basa basi aku
menanyakan padanya …. “Mau kemana Tante?”.. tanyaku . Tanteku dengan kagetnya
menjawab “Oi Hadi, bikin tante kaget nich,..Tante mau mandi pake BathTub”
jawabnya. “sama nich.” kataku.. “Rasanya memang malam ini penat sekali
yach,”..Akhirnya kami melangkah bersamaan menuju bathroom di sebelah belakang
Villa kami. Malam itu agak dingin rasanya…sampai sampai ..sambil agak mendesah
Tanteku menahan dingin..
Sesampainya di depan kamar mandi aku berhenti sambil memperhatikan tingkah Tante
yang agak aneh..(maklum aku masih anak kecil, belum pernah liat yang kayak
gituan)…”Had…kamu duluan yach..!!”.. kata Tante ku sambil mendesah…”Nggak
ach tante, Tante dulu dech.” kataku sambil rasa dingin (duch rasanya seperti
dalam freezer tuch)…”Ok, Had…Tante duluan yach”….
Tanteku masuk ke dalam kamar mandi itu…. terdengar suara pakaiannya yang di
tanggalkan, gemericik air juga mulai mengisi bathtub itu…Aku menunggu di luar
dengan rasa dingin yang sangat mengigit sambil melamun …”Had, mana nich
sabunnya”.. teriak tanteku yang mengagetkanku… Seketika itu juga aku menjawab
“Disitu Tante”…”Dimana sich?”..kata tanteku..”Kamu masuk aja Had, ambilin dech
sabunnya..Tante nggak tau nich”.
Dengan hati yang berdetak keras aku masuk kekamar mandi sambil mencari cari
sabunnya. Ternyata sabunnya dibawah Wastafel. Segera aku mengambilnya dan
memberikannya pada tanteku. Tanpa sengaja aku melihat body tanteku yang aduhai
.. yang tak sehelai benang pun melekat pada tubuhnya. Dengan wajah merah padam
aku memberikan sabunnya. Tanteku bertanya ” Mengapa Had,…belum pernah liat
yach..!!” kata tanteku dengan mengerlingkan matanya yang indah itu. dengan
malu-malu ku jawab”belon pernah tuh,tante……kulihat tanteku hanya tersenyum
kecil….sambil menggandeng tanganku,ia menyuruhku masuk……….sengaja atau
tidak kontolku bediri……had,punya kamu berdiri tuh…(kalimat itu makin
mendebarkan jantungku )dengan malu aku berusaha menutupi kontolku yang telah
bediri…….
ngapain malu had…”tanya tanteku..aku hanya tertsenyum kecut..trus tanteku
melepaskan handukku sambil berkata…tante boleh lihat punyaku….jangan tante
nanti om tau….ah ,nggak papa om orang nya sangat fair banget,,,,
akhirnya aku hanya bisa pasrah trus dengan lembutnya tanteku mempermaunkan
kontolku sambil berkata gila benar punya kamu had,barang sebesar ini kok di
diemin aja ….aku hanya bisa meringis keenakan ,karena memang aku kagak pernah
merasakan hal itu…hehehee…hatiku tertawa….
dengan lembutnya tanteku mengulum kontolku,dengan refleks aku meraba toket
tanteku yang montok itu ohhhhhhh ..nikmat sekali…….dituntunnya aku untuk
mengulum tempiknya ….aku bertannya ini apa tante ?….ooo itu clorotis
…sayang…jawabnya…aku trus saja mengulum ..vaginanya…lama juga aku
mengulumtempek nya itu…..dengan gaya 69 kami saling menikmati hal itu…tanpa
sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan
…trus kakakku masuk dan berkata ah ..tante kok tega main sama adik gua kok
kagak bilang-bilang sama aku..sambil tersenyum kecil….
mungkin karena terangsang dengan apa nyang kami lakukan akhirnya kakakku ikut
melepaskan pakaiannya …tanteku berkata”ayo sini punya adik kamun enak lho..aku
hanya tak bisa terpikirkan ternyata kakakku suka gituan juga .Baru pertama kali
ini aku melihat polos tubuh kakakku ternyata kakakku tak kalah dengan tante
malah toketnya lebih besar dari punya tate…
tanpa pikir panjang aku tarik tangan kakakku langsung aku kulum toketnya nyang
besar itu..hahaha…aku tertawa nikmat.trus tanteku bilang ,had masukin donk
punya kamu..(SAMBIL MEMOHON)…AKHIRNYA aku masukin punyaku ke tempek tanteku oh
nikmat sekaliiiiiii….tantteku hanya bisa mendesah kenikmatan .dengan goyanga
yang sererti di film aku berusaha sekuat tenaga menghabisi tempek
tanteku….selang berapa lama air mani tanteku keluar…akhhhhh…desahan itu
keluar dari mulut tanteku….tapi aku belon apa-apa akhirnya tanpa rasa dosa aku
tarik kakakku untuk juga merasakan hebatnya kontolku..heheheh…kakakku ternyata
telah nggak perawan lagi itu ku ketahui waktu kumasukan kontol ke
tempeknya….kakakku menggeliang keenakan sambil berkata ngapain nggak dari dulu
minta di “tusuk”sama kontol ku….aku terus mnggenjotnya…..pada waktu lagi
asyiknya….aku menusuk tempek kakakku sepupuku masuk eeeehhhh….lagi ngapain
kalian “tanyanya…aku cuek aja sambil berkata ,kalo mao sini aja …
tanpa aku sadari ternyata sepupuku telah menanggal kan pakaiannya….oh gila
…sepupuku tuh biar masih smu ternyata,,,bodinya hebat juga…tanpa oikir
panjang…aku tarik tanganya trus aku kulum susunya ,sambil terus mengentu
tempek kakakku…aku lihat kakakku asik mengulum tempek sepupuku itu…ternyata
kakakku telah di puncak kenikmatan hhh….ia menggeliat seperti cacing
kepanasan…kurasakan semburan air hangat keluar dari tempek
kakakku..oooohhkkkkk …teriak kakakku…aku tersenyum puas karena aku masih
bisa bertahan….dengan perkasa ganti sepupuku “mira” aku gasak ia hanya bisda
pasrah dalam dekapan kejantanku…aku coba masukan kontolku dengan pelan pelan
ternyata sepupuku itu masih perawan cing…..sangat sulit pertama kali ku
masukan kontolku…ia merintih kesakitan aku tidak kurang akal aku ludahi
tempeknya…dan kumasuka jari tanganku…lalu ku coba masukan kontol ku kali ini
bisa walau dengan susa payah….akhhhh nikmat sekali tempek
perawan….kataku…kulihat mira hanya merintih dan mendesah di antara sakit dan
nikmat.akhirnya aku merasakan juga puncak kenikmatan itu kami sama sama
klimaks……akkkkhhhhhh ….terak kami berdua….owwwww…….akhir nya kami
keluar bersamaan .
mau yang lebih hot :
[ Kumpulan Cewek Bispak Gratis ] [ Koleksi Film Bokep ] [ Free Gambar Bugil ] [ MP3 Gratis ] [ Lika Liku Pekerja Malam (PSK) ] [ Tip’s Sex Yang Sehat ]
trim’s to : http://gadisabgbugil.blogspot.com/2007/12/cerita-panas-ngentot-tante.html
Posted on December 30th, 2007
[fridabali.com] - Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-temanku bilang, kalau aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau “voltase’-ku sudah amat tinggi, aku dapat ‘muntah” juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.
Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.
lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam menyapaku.
lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.
Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas ‘you can see’ dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.
“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah… sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.
“He… masa?” balasku.
“Iya… Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he…
“Ah, neng Ika macam-macam saja…,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai belum datang?”
Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan belajar?
“Wah… dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian… Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.
“Neng Ika ini… Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”
“Kak Dai kan tidak akan tahu…”
Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.
Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. ‘Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina’
Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.
Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok…
Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.
“Mbak Di… Mbak Dina…,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku membuka pintu.
“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.
“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada apa?”
“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”
“Ng… bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”
“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.
Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si ‘boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.
Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu.
Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.
“Mas Bob… Mas Bob…,” terdengar Ika memanggil lirih.
Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.
“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.
“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.
“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”
“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”
Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil.
“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.
Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.
Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Ika. Uhhh… ranum dan segarnya.
“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.
“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan tatapan mata yang menggoda.
Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din?
Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.
“Mas Bob… ini benar nggak?” tanya Ika.
Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya… gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih menekanku terasa lebih kenyal.
Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.
“Ih… Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura menjauh.
“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,” jawabku.
lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!
Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.
Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.
“Ih… Mas Bob jangan begitu dong…,” kata Ika manja.
“Sudah… udah-udah… Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.
lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-kuluman bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.
Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa mengeras.
“Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob…,” rintih Ika. Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.
Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak keluar dan lobang celana dalamnya.
lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.
Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.
“Ahhh… Mas Bob… Ika sudah menginginkannya dan kemarin… Gelutilah tubuh Ika… puasin Ika ya Mas Bob…,” bisik Ika terpatah-patah.
Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.
“Mas Bob… ngilu… ngilu…,” rintih Ika.
Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah.
“Aduh mas Booob… ssshh… ssshhh… ngilu mas Booob… ssshhh… geli… geli…,” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.
Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuat-kuatnya.
“Mas Booob… kamu nakal…. ssshhh… ssshhh… ngilu mas Booob… geli…” Ika tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.
Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu. Perlahan-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.
Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika sangat menikmati permainan ini.
Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting payudaranya.
“Au Mas Bob… shhhhh… betul… betul di situ mas Bob… di situ… enak mas… shhhh…,” Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.
Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.
Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.
“Mas Booob… enak sekali mas Bob…,” Ika mengerang dengan kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘G-spot’-nya. Dan berhasil!
“Auwww… mas Bob…!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.
Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.
“Mas Bob… mas Bob… mas Bob…,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.
Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika sambil mengerang-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.
“Mas Bob… Ika sudah tidak tahan lagi… Masukin konthol saja mas Bob… Ohhh… sekarang juga mas Bob…! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhnya.
Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk… Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:
“Ah-ah-ah-ah-ah…”
Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.
Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.
Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob …!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku.
Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.
Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.
Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.
Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.
“Ah… ah… mas Bob… geli… geli …,“ mulut indah Ika mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.
Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya.
“Mas Bob… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”
Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.
“Ah… mas Bob… terus mas Bob… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.
Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.
“Edan… mas Bob, edan… Kontholmu besar sekali… Konthol pacan-pacanku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan… edan…,” ucapnya terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremasremas perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase dam rasa nikmat pada batang kontholku.
“Mas Bob. kita main di atas kasur saja…,” ajak Ika dengan sinar mata yang sudah dikuasai nafsu binahi.
Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.
Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.
Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.
“Mas Bob… geli… geli …,“ kata Ika kegelian.
Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya
dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.
“Mas Bob… mas Bob… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu… Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Ika.
Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.
“Mas Bob… masukkan seluruhnya mas Bob… masukkan seluruhnya… Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak mau merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia… bagai terhempas langit ke langit ketujuh. mas Bob…”
Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.
“Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob…,” katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.
Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.
Aku menghentikan gerak masuk kontholku.
“Mas Bob… teruskan masuk, Bob… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.
“Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, mas Bob. Geli… Terus masuk, mas Bob…”
Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!
“Auwww!” pekik Ika.
Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun.
“Sakit mas Bob… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu….” kata Ika sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.
Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.
“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku
“Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku…,” jawab Ika.
Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.
Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.
Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.
“Ah… mas Bob, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu mas Bob, ngilu… Sssh… sssh… terus mas Bob, terus…. Edan… edan… kontholmu membuat memekku merasa enak sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja… aku sedang tidak subur…”
Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.
“Ah-ah-ah… benar, mas Bob. benar… yang cepat… Terus mas Bob, terus…”
Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.
“Sssh… sssh… Ika… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali memekmu…”
“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali… terusss… terus mas Bob, terusss…”
Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.
“Mas Bob… mas Bob… edan mas Bob, edan… sssh… sssh… Terus… terus… Saya hampir keluar nih mas Bob…
sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Ika jadi mengoceh tanpa kendali.
Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya.
“Mas Bob… mas Bobby… mas Bobby…,” rintih Ika. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.
lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.
“Mas Bob… ah-ah-ah-ah-ah… Enak mas Bob, enak… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar mas Bob… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”
Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:
“…keluarrr…!”
Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.
Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya.
Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.
“Mas Bob… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”
Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti
dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot dengan penuh nafsu.
“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa… dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”
Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing.
Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.
“Ahhh… mas Bob… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu… semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku… Sssh…,” Ika mulai mendesis-desis lagi.
Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.
“Sssh… sssh… sssh… enak mas Bob, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis bibir Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api birahiku.
Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,
“Mas Bob… ah… mas Bob… ah… mas Bob… hhb… mas Bob… ahh…”
Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Ika mendesah, “Hhh…”
Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrtt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Ika:
“Ak! Uhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:
“lka… Ika… edan… edan… Enak sekali Ika… Memekmu enak sekali… Memekmu hangat sekali… edan… jepitan memekmu enak sekali…”
“Mas Bob… mas Bob… terus mas Bob rintih Ika, “enak mas Bob… enaaak… Ak! Ak! Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.
“Ika… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.
“Mas Bob… mas Bob… mas Bob! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak… aku ke-ke-ke…”
Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.
Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, bersamaan dengan pekikan Ika, “…keluarrrr…!” Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-beliak.
“Ika…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi.
Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa berdenyut-denyut.
Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.
Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.
“Mas Bob… terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali… sungguh… enak sekali,” kata Ika lirih.
Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.
Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya beberapa saat.
“Mas Bob… kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob… Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,” begitu kata Ika.
Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku.
mau yang lebih hot :
[ Kumpulan Cewek Bispak Gratis ] [ Koleksi Film Bokep ] [ Free Gambar Bugil ] [ MP3 Gratis ] [ Lika Liku Pekerja Malam (PSK) ] [ Tip’s Sex Yang Sehat ]
trim’s to : http://17tahun.blogspot.com/2006/06/putri-ibu-kostku.html
















