Aku seorang karyawan yang sudah merantau di kota ini sekitar tiga tahun, dari awal kepindahanku ke kota ini aku tinggal di sebuah kost – kost an yang lumayan bagus dan berada di lingkungan yang cukup berada.

Rumah – rumah disekitar kost an ku cukup mewah, seperti nya kebanyakan mereka adalah pengusaha dari warga keturunan. Salah satu rumah yang bernomor 8 persis berada di depan rumah kost ku milik seorang yang sepasang suami istri yang tidak memiliki anak.

Suami istri pemilik rumah itu selalu berangkat kerja pagi – pagi sekali dan baru kembali hampir tengah malam. Keluarga itu memiliki dua orang pembantu, seorang yang sudah tua yang aku kenal bernama Mbok Rubiyah sedangkan yang muda sering dipanggil Marni.

Marni ini orang nya cukup cantik, sexy dan berkulit hitam manis. Dia baru saja bekerja di rumah itu sekitar tiga bulan.

Dari awal aku melihat dia, aku sudah ada pikiran nakal, maklumlah aku cowok yang kesepian sedangkan pacarku masih tinggal di kota ku di seberang pulau.

Konon Marni pernah bekerja sebagai TKW di Hongkong, hingga tak salah kalau penampilannya sedikit gaul dengan rambut cat merah dan gemar main sms.

Dari lirikan matanya aku tahu kalau Marni cukup genit juga, hingga tak kurang dari seminggu aku sudah berkenalan dengan dia, dan dari semenjak itu aku rutin main sms dengan dia.

Pada saat libur lebaran kemarin, nampaknya hanya Marni yang menjaga rumah, karena sang majikan pergi berlibur ke Australia sedangkan si mbok mudik ke Jawa.

Kesempatan ini tentunya tidak terlewatkan begitu saja. Hampir setiap hari aku ngobrol dengan Marni di teras depan rumah majikan dia.

Singkat cerita aku sudah jadian dengan dia, hingga jadwal apel pun menjadi rutin setiap malam, dan kini bergeser ke dalam rumah saat kami resmi pacaran.

Berhubung libur lebaran hanya seminggu, aku pun tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa merekuh asmara bersama Marni.

Kini aku mulai memberanikan diri memeluk dia sambil mengelus – elus tangannya. Awalnya dia menolak dan beralasan takut karena baru pacaran.

Tapi aku tetap saja membandel. Lama kelamaan Marni sepertinya dengan sengaja membiarkan aku memeluk dia, begitu pula saat aku berusaha mencium pipinya.

Selang beberapa lama, aku pun mulai berani mencium bibirnya, walau dia agak sedikit menghindar namun dia tetap saja membiarkan aku mencium bibirnya.

Tak kuduga saat aku memeluk tubuhnya dengan erat sambil berbisik “Aku sayang kamu…”

Marni tiba – tiba berdesah tips … “Ahhh……” sambil kedua tangannya membalas pelukanku.

Melihat kondisi Marni yang sudah mulai sedikit terangsang, aku pun segera beraksi, kulumat bibir manis Marni dengan lembut, kemudian kumainkan lidahku.

Marni pun membalas permainan lidah ini sambil semakin erat memelukku. Tak ketinggalan tanganku pun mulai beraksi meraba payudara Marni.

Entah karena terangsang hebat atau keasyikan ciuman, sepertinya Marni tidak mengetahui kalau tanganku sudah meremas – meremas payudara nya yang sexy.

Marni berbisik “Jangan mas…. aku takut…” saat aku berusaha menggapai payudara dia dari balik kaos ketat yang dia pakai.

Seperti tidak menghiraukan ketakutan dia, aku kembali melumat bibir Marni penuh nafsu. Marni pun membalas dan kali ini tambah sedikit ganas.

Marni kini seperti memberi ruang kepada tanganku untuk menggapai payudara dia yang masih berbalut BRA hitam.

Marni pun berteriak erotis saat aku berhasil meraih puting nya yang mungil.
Saat aku meremas payudaranya dengan sedikit kasar dan diimbangi ciuman dashyat, Marni menggeliat menahan hasrat.

Tak ingin kehilangan momen, tangan kiriku langsung beraksi, meraba paha dalam Marni yang mengenakan rok pendek.

Walau Marni semakin ganas mengimbangi ciumanku dan semakin erat mencengkram lenganku tapi paha Marni tiba – tiba tertutup rapat yang membuat tanganku gagal meraih memek dia.

Aku tak kehilangan akal, Marni kini aku rebahkan di sofa dengan tangan kananku merangkul leher dia, sementara aku berusaha mencium putingnya dengan bibirku sementara tangan kiriku berusaha menyibakan Bra yang masih dia kenakan.

Saat aku berhasil mencium putingnya, mulut Marni tenganga labar, matanya sedikit melotot tanda dia sudah nafsu berat.

Dalam hitungan detik aku berhasil menempelkan kontol ku yang masih mengenakan jeans ke pantat sexy Marni.

Dengan sedikit usaha aku berhasil mengeluarkan kontolku dari balik resleting jeans yang aku kenakan, kini kontolku telah terjulur keras dan kaku dari celanaku.

Saat itu Marni masih mengenakan CD renda warna hitam. Aku berusaha melepas CD itu, namun sia – sia, karena aku hanya berhasil melorotkan sedikit saja, hingga CD masih berada di sekitar paha Marni, itu tidak lain karena Marni berusaha melawan aksiku dengan tangan kanan dia.

Sepintas aku mendengar Marni berbisik…. “Jangan mas… jangan…”

Aku pun sudah kesetanan, aku tidak peduli dengan larangan Marni, kuhujamkan saja kontol ku ke memek Marni dari sela – sela CD dia yang melorot setengah.

Dengan beberapa kali hujaman, kontolku baru berhasil menyentuk bibir memek Marni yang sudah basah.

Saat aku hentak lebih keras, kontolku ku berhasil mulus memasuki memek Marni yang sudah basah.

Marni pun sedikit mendelik lalu dia menutup matanya sambil mulutnya tenganga.

Setelah itu aku hanya mendengar desahan erotis Marni… “uhhhh…. ahhhh… uhhh…”

Kini Marni sudah pasrah, dia kini mencengkram erat tangan ku dengan kedua tangannya.

Dia pun terdiam saat aku membalik posisi dari berada dibelakang dia, kini menjadi menindih dia.

Kini aku lebih leuasa menghujamkan kontolku ke memek Marni karena dia memberi kesempatan saat aku melepas CD dia.

Marni kini lebih banyak menutup mata sambil memelukku erat saat aku gerakan kontolku maju mundur di liang memek dia.

Marni pun sedikit sedikit kini mengimbangi goyanganku. tak kurang dari 15 menit, kini Marni memeluku lebih erat dan berteriak lebih keras… “Uggghhh…. Aaaahhhh…..”

Aku pun semakin bernafsu, kugoyang kontolku lebih keras, tak selang berapa lama, kembali Marni berlaku seperti tadi…

Tak kurang dari lima kali aku merasakan Marni memeluk lebih erat dan berteriak erotis lebih keras. Aku menduga kalau Marni sudah orgasme.

Begitu pula saat aku mencapai klimaks, kontolku memuntahkan sperma hangat didalam memek Marni, dia berteriak agak panjang “Ahhhhh…… gilllaaaa……”

Permainan sex ini pun berakhir dalam waktu kurang dari sejam. Kini kami berpelukan hangat dan sesekali Marni berbisik “Kamu…. nakal…” seraya mencubit pinggangku.

Mulai dari sejak malam itu, kami selalu nge-sex rutin tiap malam, tapi kondisinya lebih bagus karena kami ngentot di kamar di lantai dua yang konon khusus buat tamu yang menginap.

Pengalaman ngentot pertama tidak bisa kami lupakan berdua, ini yang membuat kami selalu pingin dan pingin lagi ngentot.