Aku kadang menyesali apa yang pernah aku lakukan selama ini. Aku kadang memaki diriku sendiri. Betapa bejatnya aku sebagai seorang bibi dihadapan Agus, anak dari iparku sendiri.

Aku memang tergolong seorang istri yang kesepian, selama 1,5 tahun pernikahanku, aku lebih sering ditinggal bekerja oleh suamiku. Suamiku memang bekerja di sebuah kapal pesiar di Amerika. Setelah bekerja selama 8 bulan di negeri paman sam, dua bulan musim liburan dia habiskan bersamaku dirumah.

Memang aku akui keadaan ekonomi keluarga kecil kami memang berkecukupan hingga aku dilarang bekerja oleh suami, terlebih lagi kami baru membeli sebuah rumah mungil sehingga memerlukan banyak waktuku untuk mengurus rumah baru kami.

Rumah kami lokasinya di pinggir kota dan sebagai komplek perumahan yang baru, baru beberapa tetangga saja yang sudah menempati rumahnya. Ini yang membuat komplek perumahan kami sunyi, terlebih lagi letaknya ditengah – tengah persawahan.

Suasana sunyi, tenang dan damai sangat terasa di komplek perumahan kami, namun terkadang aku merasa mencekam juga bila malam hari ada suara anjing meraung – raung.

Hal ini lah yang membuat suamiku memutuskan untuk mengajak anak kakak dia yang baru lulus SMP di kampung tinggal bersama kami di kota. Agus begitu namanya akhirnya melanjutkan SMA di kota bersama kami.

Agus orangnya rajin dan santun dan kami sangat terbantu karena kehadirannya di rumah kami. Hingga kini rumah kami sudah sedikit lebih rapi daripada saat selesai di bangun bulan mei lalu.

Setelah menghabiskan liburan selama dua bulan, awal agustus yang lalu suamiku balik ke amerika untuk bekerja. Tinggalah aku ditemani agus tinggal di rumah.

Awal – awal kepergian suamiku, aku mulanya biasa saja terlebih lagi dengan banyaknya kesibukan beres – beres rumah.

Namun semenjak dua minggu terakhir aku tidak mengerti yang terjadi pada diriku. Mengapa aku merasa nafsu sex ku bergelora tiada henti. Aku sudah berusaha untuk mengalihkan pikirianku, namun bayangan penis yang keras dan tegang menusuk vagina ku tidak pernah bisa aku hapus.

Sampai – sampai memekku terasa tebal dan neg, hingga sering aku usap – usap dengan tanganku sendiri. Memang usapan tanganku dan jari – jariku cukup membuat aku sedikit senang, namun apalah arti tangan sendiri karena tidak mungkin memuaskan hasrat sex ku.

Untuk menggunakan alat bantu seperti yang aku tonton di film blue sudah mustahil bagiku karena tidak mungkin aku membeli alat – alat seperti itu, apalagi aku tidak tahu tempat yang menjual alat – alat bantu sex seperti itu.

Hingga terjadilah kejadian yang sangat membuat aku malu dua hari yang lalu. Waktu itu suasana malam agak mencekam terlebih lagi hujan deras yang diselingi petir dan kilat yang menyambar – nyambar yang membuat aku ketakutan tidur dikamar. Aku pun memutuskan untuk tidur diruang tamu. Aku meminta Agus agar tidak tidur dikamar dia tetapi menemaniku tidur di ruang tamu.

Aku tidur diatas sofa sedangkan Agus tidur dilantai beralaskan karpet. Aku pun cukup lega setelah itu karena aku tidak ketakutan lagi.

Kami pun tertidur pulas. Kira – kira jam dua pagi, aku terbangun karena ada suara petir yang cukup keras yang membuat aku terkejut. Aku pun menjadi takut dan mencekam walaupun Agus tidur tidak jauh dari sofa.

Saking ketakutan aku pun memutuskan untuk tidur di karpet bersebelahan dengan si Agus. Agus rupanya tidak tahu kalau aku pindah tidur disebelah dia. Aku tidur terlentang sedangkan si Agus tidur memeluk guling menghadap TV.

Walaupun ketakutanku sudah mulai sirna namun aku belum bisa memejamkan mata lagi, hingga pikiranku menerawang kesana kemari dibuatnya. Sampai suatu ketika si Agus membalikkan badannya hingga tangan kirinya jatuh tepat dipahaku dan hampir mengenai vaginaku.

Aku pun terkejut dan tersentak lalu secara refleks aku memindahkan tangan dia dari pahaku. Agus pun masih tetap mengorok, rupanya dia tidak sadar apa yang dia lakukan tadi. Namun aku tidak mengerti kenapa tiba nafsu sex ku tiba – tiba datang lagi saat tangan si Agus tidak sengaja menyentuh pahaku.

Bahkan gelora nafsu sex ini semakin menjadi – jadi sampai aku memainkan vagina ku dengan jari tangan ku sendiri dan berdesah – desar pelan penuh nafsu.

Entah bisikan setan dari mana yang mendorong aku tiba ingin bercinta dengan si Agus yang ABG baru tamat SMP. Tidak puas memainkan vagina dengan jari sendiri, aku menyibakkan sarung si Agus, dibalik celana dalam dia tersembu kontol mungil yang masih perjaka.

Aku sudah seperti orang kesetanan, pelan – pelan aku sibakkan celana dalam si Agus yang masih tertidur dan belum sadar apa yang aku lakukan. Aku elus – elus kontol mungil itu, aku ciumin kontol itu sambil tangan kiriku memainkan vagina ku sendiri.

Pelan – pelan kontol mungil itu bangun, aku yakin si Agus sudah terbangun tapi mungkin diam pura – pura tidur, aku kulum – kulum kontol si Agus sampai kontol itu betul – betul tegang.

Melihat kontol itu tegang, aku pun sudah tidak tahan lagi, vagina ku sudah basah kuyup karena nafsu. Aku pun duduk diatas paha si Agus sambil memegang kontol dia agar tepat masuk di lubang vaginaku. Kontol mungil yang sudah tegang itu masuk dengan mulus ke liang vaginaku.

Walaupun terasa sedikit hambar karena ukuran kontol yang kecil namun aku merasa cukup nikmat juga. Aku bergoyang memainkan kontol mungil yang sudah tertancap di vaginaku. Si Agus rupanya sudah bangun namun tetap diam pura – pura tidur karena aku mendengar desahan dia disela – sela desahanku yang penuh nafsu.

Aku sudah tidak perduli lagi, aku goyang semakin kencang, namun sedikit lagi aku mencapai klimaks, si Agus sudah orgasme. Tak mau ketinggalan kesempatan aku tetap goyang sampai aku orgasme juga.

Saat si agus orgasme, aku merasakan muncratan sperma hangat yang cukup keras menyemprot liag vaginaku, hal inilah yang rupanya memancing aku menjadi cepat orgasme.

Selesai bercinta aku kembali tidur disebelah si Agus, rupanya si Agus juga masih tediam pura – pura tidur. Aku cukup puas dengan percintaan tadi walau aku merindukan kontol tegang, besar, hitam serta bermainan cinta yang agak kasar, namun apa daya hanya ini yang ada pikirku.

Keesokan harinya aku menyesali apa yang aku telah perbuat dengan si Agus, bagaimana kalau dia melapor ke orang tua dia yang nota bene adalah iparku sendiri. AKu memaki diriku sendiri, kenapa aku bisa seperti ini.

Kenapa aku tidak bisa menahan gelora nafsu ini, kenapa aku harus bercinta dengan si Agus, pertanyaan – pertanyaan seperti itu yang memenuhi otakku kemarin.

Hingga kemarin seharian penuh kami sama – sama pura – pura tidak pernah tahu kejadian yang sudah pernah kami alami berdua. Semoga si Agus tidak menceritakan kejadian ini kepada orang lain sehingga kejadian itu bisa menjadi rahasia kami berdua saja.

Aku pun mulai berpikir, apakah sebaiknya aku membeli alat bantu sex atau mencari orang lain yang aku bisa ajak bercinta, atau cukup memuaskan nafsu sex ku dengan jariku sendiri.

dikirim oleh wiryanti@xxxxx.com

peserta lomba menulis cerita dewasa