Perkenalan aku dengan Pak Agus terjadi pertama kali saat dia bertandang ke salon, saat itu dengan sigap mbak mirna mengenalkan aku dengan Pak Agus.

Pak Agus orangnya masih muda kira – kira 25-30 tahun, ganteng, gagah, cukurannya rapi dan penampilannya kalem serta tidak banyak omong. Dia selalu mengendarai Suzuki Karimun Estillo yang imut warna silver, selalu menggenggam HP ditangannya.

Saat pertama berkenalan aku jadi gugup dan gemetar, walaupun aku di kampung sudah punya pacar, namun pertemuan dengan Pak Agus rasanya lain, ada yang bergetar didalam dadaku.

Dengan sedikit grogi aku mulai melayani Pak Agus, aku antar dia ke sebuah kursi di pojok lalu aku coba tunjukan kesigapan layananku dengan menyiapkan peralatan salon dengan cepat seperti gunting, sisir, hair drayer, dll.

“Mbak, saya tidak minta di cukur atau di creambath, tapi cuma ingin dipijat ” sapanya dengan halus. Ya ampun pikirku, aku jadi malu karena aku pikir Pak Agus minta di cukur.

Dengan muka memerah aku antar pak Agus ke sebuah bilik pijat. Kali ini aku tidak mau membuat dia kecewa lagi. Aku ingin memberikan layanan terbaik kepada customer ku yang pertama. Seperti cerita – cerita yang aku dengar dari Mbak Mirna tentang layanan plus dengan kedok pijat, aku bertekad melayani Pak Agus dengan baik.

Saat sudah berada dalam bilik, aku beri kesempatan Pak Agus melepas pakaiannya, sesaat kemudian aku pun masuk dan mulai mencoba memijat ala kadarnya saat Pak Agus sudah berbaring dengan mengenakan celana dalam saja.

Walau tanganku sampai sakit memijat seluruh badan Pak Agus sepertinya dia tidak bergeming sama sekali. Aku sadar kalau pijitanku tidak berarti sama sekali bagi dia. Tapi saat aku tanya, apakah pijatannya kurang keras, Pak Agus selalu menjawab “Sudah cukup kok mbak…”

Tapi aku tahu Pak Agus pasti kecewa dengan pijatanku. Aku coba menghibur dia dengan cerita – cerita lucu, tapi dia tetap tidak bergeming dan hanya tertawa kecil.

Aku takut Pak Agus akan komplin ke mbak mirna, akhirnya kucari akal agar Pak Agus tidak kecewa. Sambil terus memijat, aku berkata “Pak Agus, mohon maaf, pijatan saya kurang keras, tapi mohon jangan lapor ke Mbak Mirna ya pak, nanti saya dipecat” “Saya bersedia melakukan apa aja asal bapak tidak komplin” lanjutku

Tiba – tiba Pak Agus menoleh pelan dan berbisik “Bener nih, mau ngapain aja”. “Ya pak. tapi jangan komplin ke mbak mirna” pinta ku manja.

Dia tiba – tiba bangun dan berdiri disamping tempat tidur lalu menyuruh aku rebahan. Saat itu aku masih mengenakan pakain lengkap. Aku takut bukan kepalang, tapi aku paksakan demi sesuap nasi pikirku. Kalaupun saat itu Pak Agus akan menyetubuhi aku, aku pun sudah siap, toh aku pernah melakukan hal ini dua kali dengan pacarku di kampung.

Pak Agus kemudian duduk disebelah aku berbaring, aku pasrah dan memejamkan mata. Mulailah tangan Pak Agus meraba – raba leherku lalu mencium leherku, sesaat kemudian dia mulai melepas kancing bajuku satu persatu, hingga BH ku tampak jelas.

Jari pak agus mulai menelusuri leherku kemudian dadaku dan berakhir di payudaraku. Jari telunjuknya mencoba memainkan puting susuku yang masih mengenakan BH. Aku merinding sekujur tubuhku, geli teramat sangat kurasa saat di mencoba meraih putingku dibalik BH ku.

Dengan satu tangan dia pun begitu cepat melepas BH ku dan kini payudaraku yang sedikit montok terlihat jelas. Seperti kesetanan Pak Agus kemudian memainkan putingku dengan mulut dan lidahnya.

Aku semakin merinding dan merasakan geli di sekujur tubuhku, dengan refleks aku jambak rambut Pak Agus dengan kedua tanganku.

Saat Pak Agus dengan liar memainkan putingku, tangan kiri dia pun mulai meraba – raba rok ku dan mencoba meraih vaginaku dari baliknya.

Refleks aku menggeliat dan menjepit tangan Pak Agus dengan kedua pahaku. Pak Agus mencoba meraih vaginaku, akupun refleks meronta.

Kemudian Pak Agus menghentikan semua aksinya, lalu dia menciumku sambil melepas tangannya yang aku jepit dengan kedua paha. Dia berbisik “Kapan – kapan kita bisa ketemu di luar gak ?’

Aku mengangguk mengiyakan. Aku takut membuat dia kecewa, jadi terpaksa aku iyakan. Padahal tadi aku sudah berusaha pasrah, namun mungkin karena aku belum terbiasa berhubungan sex yang membuat aku meronta, mungkin ini yang membuat dia mengurungkan niatnya bercinta saat itu.

- bersambung -

diceritakan oleh yuli