Cita – cita menjadi seorang pegawai hampir terkubur dalam – dalam saat orang tuaku tidak sanggup menanggung biaya sekolah melanjutkan ke SMU selepas tamat SMP.

Di jaman seperti ini tamatan SMP tidak berarti apa - apa, tidak akan mampu bekerja di kantoran seperti bibiku yang bekerja pada sebuah bank swasta. Mana ada perusahaan yang mau menerima pegawai yang hanya tamatan SMP.

Pikiranku semakin suntuk, cita - cita untuk menjadi pegawai dan membantu ekonomi keluarga hancur berantakan. Inilah yang membuat aku nekat untuk merantau ke Bali.

Kebetulan saat itu Mbak Mirna yang konon bekerja di salah satu SPA di Bali sedang pulang kampung. Saat dia kembali lagi ke Bali, aku pun memohon untuk ikut bersamanya.

Singkat cerita sesampai di Bali aku pun bekerja tanpa gaji di salon kecil tempat mbak mirna bekerja, itu pun hanya bantu – bantu saja sambil belajar. Aku sempat heran, kenapa salon kecantikan ini hanya didatangi cowok – cowok saja, sedangkan yang namanya kecantikan bukankah untuk wanita, masa sih cowok – cowok jaman sekarang suka berdandan, pikirku dalam hati tanpa pernah menyangka ternyata salon kecantikan itu hanya kedok belaka.

Hal ini kuketahui belakangan saat mbak mirna melayani salah satu langganannya di bilik paling pojok. Terdengar samar - samar rintihan mbak mirna, aku belum yakin apa yang dilakukan mereka berdua di bilik itu. Kalau tidak salah mereka sedang memadu kasih.

Benar juga dugaanku, suatu malam saat kami sudah kembali ke kost, mbak mirna memberi aku selembar uang 50.000,- katanya buat jajan karena selama ini aku tidak digaji di salon itu. Iseng aku memberanikan diri bertanya ” Mbak, kok mas yang bawa mobil putih itu hampir setiap hari ke salon ? Apa harus setiap hari dia potong rambut ?”

Mbak mirna tersenyum kecut sambil menjawab ” Bukan potong rambut, tapi cuci rambut… rambutnya yang dibawah, kamu mau kerja seperti itu ? “.  Aku pun terkejut dan menangkap arti dari jawaban mbak mirna.

Aku pun tidak bisa tidur mendengar jawaban itu, rupanya selama ini mbak mirna bisa mendapatkan uang banyak karena pekerjaan itu. Dan anehnya tidak satu cowok yang dia layani, tak kurang sekitar 5 cowok bermobil jadi langganan dia.

Batinku tersika memikirkan ini, satu sisi aku butuh uang untuk hidup dan membantu keluarga, di satu sisi aku takut berbuat dosa.

Setelah beberapa hari dalam kebimbangan, aku pun memutuskan mengikuti jejak mbak mirna, ini demi hidup, daripada mati kelaparan di negeri rantau pikirku. Kujual kegadisanku demi hidup dan keluargaku.

Mbak mirna pun sumringah saat aku utarakan maksudku itu, dan dia pun aktif menawarkan aku ke cowok – cowok langganan dia. Hingga akhirnya aku dikenalkan sama Pak Agus, seorang pengusaha muda yang jarang datang ke salon.

- bersambung -

narasumber : yuli