Foto ABG Bandung

[fridabali.com] -
Setelah gue ngerasain gimana rasanya memek betulan, gue jadi males

coli pake tangan. Nggak ada serunya! Setiap hari gue terbayang-bayang dengan

memek cewek yang pernah gue pakai di hotel (lihat cerita “ROOM SERVICE”).

Rasanya gue ingin ngentot sama dia setiap hari. Tapi gue mikir, jangan-jangan

dia sekarang udah dipakai sama orang berpenyakit AIDS atau raja singa. Kan gawat

tuh.

Kebetulan gue punya bokin kece banget. Kira-kira seperti cewek yang ada

di iklan Carefree. Lumayan kan? Doi sering main ke rumah gue. Sayangnya (atau

untungnya?) doi enggak suka sama Internet. Tapi doi dulu pernah juga sih

lihat-lihat Internet. Waktu itu gue lagi beresin homepage ini. Eh, enggak

disangka doi nongol. Untung aja gue udah selesai uploading ke server. Terus

karena udah terlanjur basah, gue unjukin aja homepage ini. Gue suruh dia baca

sampai habis. Sampai di pertengahan (masuk ke cerita ngentot), doi enggak mau

baca. Tapi gue paksa dia. Akhirnya doi mau juga baca sampai habis. Terus dia

nanya, “Siapa yang bikin Wir?”. Gue jawab aja, “Enggak tau tuh. Ini kan

Internet. Siapa saja bisa baca cerita ini”. Dia lalu mengomentarin homepage yang

barusan dia baca. Sambil dengerin doi ngomong, gue mulai ngegerayangin bodynya.

Doi duduk di kursi menghadap monitor. Gue berdiri di belakangnya. Pertamanya sih

gue mijit-mijit pundaknya, tapi kemudian tangan gue mulai turun ke bawah

meremas-remas toketnya yang montok. Doi diam saja. Gue pegang lembut toketnya

terus gue putar-putar. Tak berapa lama kemudian doi mendesah sambil matanya

terpejam. Karena gue yakin doi udah terangsang, jari gue kemudian gue turunin

sampai ke paha. Doi saat itu pakai rok, jadi gue bisa bebas ngegerayangin

pahanya. Tangan kiri gue masih meremas-remas toketnya, tangan kanan gue

mengusap-usap paha kanan dia sebelah dalam. Doi sekarang merebahkan badannya di

sandaran kursi.

Pelan-pelan gue naikin usapan tangan gue dari paha ke arah atas sampai

tangan gue menyentuh celana dalamnya. Gue bisa merasakan celana dalamnya sudah

hangat dan lembab. Gue singkap celana dalamnya ke sebelah kiri. Sekarang gue

bisa merasakan bulu-bulu jembutnya yang keriting. Gue meraba-raba sambil mencari

dimana letak itil dan lobang memeknya. Karena dia udah terangsang, jadi lobang

memeknya semakin menganga lebar dan itilnya juga semakin besar menonjol ke luar.

Jari tengah gue, gue tempelin di depan lobang memeknya. Di situ gue bisa basahin

jari gue dengan cairan yang mengocor dari dinding vaginanya. Sesudah jari gue

basah, gue usap-usap itilnya naik turun. Doi menggeliat saat jari gue pertama

kali mengusap itilnya. Pertamanya sih gue ngusapnya pelan-pelan dengan penuh

perasaan, tapi setelah dia mulai “ngamuk”, gue gosok itilnya semakin cepat. Doi

semakin kesetanan. Pingulnya doi gayang-goyang ke kiri, kanan, atas dan bawah.

Tubuhnya mengejang. Tangannya mencengkeram kursi keras sekali. Gue rasa sebentar

lagi doi orgasme. Gue berhentiin saja usapan gue.

Doi membuka matanya lalu menatap gue. Sambil cemberut doi minta gue

ngusap-usap lagi itilnya. Gue senyum sambil di dalam hati gue menikmati

kesengsaraannya. Mungkin karena kesel, doi meraih tangan kanan gue terus

meletakkannya di atas memeknya. Doi sudah bener-bener kebelet. Gue suruh dia

tiduran di lantai. Doi nurut saja. Setelah doi terlentang di atas lantai, gue

pelorotin celana dalamnya sampai terlepas. Sekarang doi sudah tidak pakai celana

dalam lagi.

Gue perhatiin memeknya dengan seksama. Di bagian atas memeknya tumbuh

lebat bulu-bulu keriting. Di bagian memek, gue lihat bibir memeknya sudah mekar.

Dibagian atas dari belahan memeknya gue bisa melihat jelas itilnya yang membesar

dan keras. Tepat di bawah itil, gue melihat lobang vaginanya membesar membentuk

huruf O. Gue sekarang mengusap-usap itilnya sambil tangan kanan gue membuka

lobang vaginanya agar lebih bisa terlihat jelas lagi selaput daranya. Gue

terkejut waktu gue lihat selaput daranya berlobang agak besar. Memang sih semua

selaput dara pasti berlubang (kalau enggak, darah mens keluarnya lewat mana?).

Tapi ini lubangnya kira-kira sebesar kelingking. Gue curiga jangan-jangan doi

dulu pernah ngentot sama bokinnya yang lama. Tapi karena gue udah bener-bener

nafsu, gue cuekin dulu masalah ini. Gue pelorotin celana jeans dan celana dalem

gue. Waktu gue mau naikin doi, doi bilang, “Jangan Wir”. Tapi gue udah nekad.

Sekarang gue udah ada di atasnya. Gue pegangin kontol gue dengan tangan kanan

lalu gue arahkan ke depan mulut vaginanya. Waktu gue dorong ke dalem, kedua

tangan doi menahan pinggul gue supaya kontol gue enggak bisa menusuk memeknya

sambil mulutnya merintih kesakitan. Gue jadi bimbang, doi gue ini masih perawan

atau pura-pura kesakitan? Karena gue udah bener- bener nafsu, gue tepis

tangannya lalu secepat kilat gue dorong kontol gue ke dalem. Bles! masuk

semuanya. Doi menjerit kesakitan. Gue diemin dulu kontol gue di dalem sampai gue

lihat dia enggak kesakitan lagi. Setelah doi agak tenang, secepat kilat gue

kocok-kocok kontol gue maju mundur. Doi meringis kesakitan tapi gue enggak

perduli. Gue terus gerakin kontol gue sambil merasakan gesekan yang terjadi

antara kontol gue dengan dinding vaginanya. Lama-lama doi menikmati hubungan

seks ini. Doi mendesah (seperti orang yang ditonjok perutnya) setiap kali kontol

gue gue tusukin ke dalam. Sekarang pinggul doi malah ikut digerak-gerakin ke

kiri dan ke kanan. Gue semakin kesetanan. Gue peluk erat tubuhnya sampai

toketnya “ringsek” ditekan dada gue. Doi juga balas memeluk tubuh gue sambil

kedua kakinya dia lingkarkan ke pinggang gue. Suara doi sekarang bukan seperti

orang yang ditonjok perutnya tapi berubah menjadi orang yang mau nangis sambil

sekali- sekali menjerit tertahan. Gue lumat bibirnya dan dia membalas ciuman gue

dengan lidahnya yang menjulur ke dalam mulut gue. Kadangkala doi menggigit leher

gue menahan nikmat yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Hampir limabelas menit gue ngocok-ngocok kontol gue maju mundur.

Keringet gue udah bercucuran banyak banget. Doi mengusap-usap punggung dan

pantat gue. Gue enggak tahu kapan doi dapat orgasme. Tapi yang jelas sekarang

doi udah mulai tenang. Sambil ngusap-usap badan gue, doi bilang, “Ayo dong Wir,

keluarin sekarang”. Mendengar itu gue jadi kasihan juga. Gue pejamkan mata

sambil konsentrasi berat. lima menit kemudian gue ngerasa gue udah mendekati

ejakulasi. Kontol gue semakin tegang. Gue terus bilang, “Wiro keluarin didalem

ya?”. “Iya-iya” katanya. “Entar kalau elu hamil gimana?” tanya gue. “Elu harus

tanggung jawab.” Sial. Enak aja gue harus jadi bapak-bapak. Gue kan masih ingin

menikmati masa muda. Gue jadi bimbang, dicabut atau enggak ya? Padahal gue

pengen banget keluarin di dalem. Soalnya rasanya enak banget! Waktu ejakulasi

sudah dekat, gue semakin percepat gerakan gue sambil bisikin ke dia, “Wiro mau

keluar nih. Satu…. dua…. ti…” Crot- crot-crot! Gue nyemprot banyak banget.

Untungnya gue buru-buru cabut kontol gue. Sesudah limabelas detik, gue pindah

lalu terlentang di sampingnya. Doi bangun, ngambil tissue, dan menyeka air mani

yang nempel belepotan di perutnya. Sesudah itu doi mengambil tissue lagi lalu

mengelap kontol gue sambil berkomentar, “idih, jadi kecil.”

Begitulah pembaca pengalaman gue ngentot dengan bokin gue. Gue mulai

hari ini harus ekstra waspada jangan sampai doi baca homepage ini. Kalau doi

tahu, habislah riwayat gue. Sekalian gue juga mau tanya sama elu-elu (terutama

yang cewek), apa benar bokin gue masih perawan sebelum gue ngentot dengannya?

Sampai hari ini gue masih bimbang. Kalau bokin gue pernah ngentot sama bokinnya

yang lama, gue pengen banget tonjok cowok itu sampai babak belur. Apalagi yang

mutusin cinta mereka adalah mantan bokinnya itu.
mau yang lebih hot :
[ Kumpulan Cewek Bispak Gratis ] [ Koleksi Film Bokep ] [ Free Gambar Bugil ] [ MP3 Gratis ] [ Lika Liku Pekerja Malam (PSK) ] [ Tip's Sex Yang Sehat ]

trim’s to : http://topabgindo.blogspot.com/2007/12/foto-abg-bandung.html